ASUS mendukung produksi film Pelangi di Mars lewat teknologi ProArt, virtual production, dan XR untuk menghadirkan visual futuristik yang presisi.

Perkembangan industri perfilman, baik di tingkat nasional maupun global, mendorong kebutuhan akan kualitas produksi yang semakin tinggi. Tidak hanya dari sisi cerita dan akting, pencapaian visual yang kuat juga kini menjadi bagian penting dalam menghadirkan pengalaman sinematik yang memikat. Di tengah kebutuhan tersebut, dukungan perangkat dan teknologi komputasi berperforma tinggi menjadi elemen yang semakin krusial dalam proses produksi film modern.

Melihat kebutuhan itu, ASUS menjalin kolaborasi dengan Mahakarya Pictures dan DOSS Guava XR Studio dalam mendukung produksi film Pelangi di Mars. Kolaborasi ini menghadirkan teknologi komputasi yang digunakan untuk membantu berbagai tahapan produksi, mulai dari pengembangan visual hingga proses penyempurnaan hasil akhir film.

Pelangi di Mars Hadirkan Kisah Futuristik dari Tahun 2090

Film Pelangi di Mars mengambil latar masa depan, tepatnya pada tahun 2090. Ceritanya berfokus pada kehidupan seorang anak yang menjadi manusia pertama yang lahir dan tumbuh di Planet Mars. Premis ini menghadirkan ruang eksplorasi visual yang luas, sekaligus menuntut penggarapan dunia futuristik yang meyakinkan di layar lebar.

Film ini juga menjadi debut penyutradaraan film panjang bagi sutradara Upie, yang sebelumnya dikenal melalui karya dokumenter dan video musik. Dengan tema lintas planet dan dunia masa depan, Pelangi di Mars menjadi proyek yang menuntut pendekatan produksi yang tidak biasa, termasuk pemanfaatan teknologi visual mutakhir.

Produksi Film Mengandalkan Teknologi XR dan Metode Hybrid

Dalam proses produksinya, Pelangi di Mars memanfaatkan teknologi Extended Reality (XR) dan metode produksi hybrid. Pendekatan ini menggabungkan pengambilan gambar nyata dengan lingkungan virtual tiga dimensi, sehingga memungkinkan terciptanya dunia Mars yang lebih hidup dan imersif.

Penggunaan metode tersebut tentu membutuhkan perangkat dengan performa tinggi serta akurasi visual yang presisi. Pembuatan aset visual, rendering lingkungan 3D, hingga color grading menjadi tahapan penting yang harus ditangani dengan dukungan teknologi yang memadai. Seluruh proses ini berperan besar dalam memastikan hasil akhir film tetap sesuai dengan visi kreatif pembuatnya.

ASUS ProArt Jadi Andalan untuk Kebutuhan Kreator Profesional

Untuk mendukung kebutuhan produksi tersebut, Mahakarya Pictures menggunakan ASUS ProArt, lini perangkat yang memang dirancang bagi kreator profesional, termasuk filmmaker. Kehadiran ProArt menjadi penting karena produksi film modern membutuhkan sistem kerja yang mampu menangani grafis kompleks, pemrosesan visual berat, serta reproduksi warna yang konsisten.

Lini ASUS ProArt mencakup PC berperforma tinggi untuk pengolahan grafis dan rendering, serta monitor dengan tingkat akurasi warna yang tinggi. Dukungan ini memungkinkan tim kreatif memantau detail visual secara lebih presisi, mulai dari tahap produksi hingga final output. Dengan begitu, kualitas gambar, warna, dan detail yang diinginkan dapat dipertahankan secara konsisten sepanjang proses kerja.

Virtual Production Bantu Visualisasi Dunia Mars Secara Real-Time

Kolaborasi ini juga diperkuat oleh pemanfaatan teknologi virtual production dan extended reality melalui DOSS Guava XR Studio. Teknologi tersebut memungkinkan tim produksi membangun lingkungan digital secara real-time selama proses pengambilan gambar berlangsung.

Keunggulan pendekatan ini terletak pada kemampuannya membantu kru dan sutradara memvisualisasikan dunia futuristik Planet Mars secara langsung saat syuting. Dengan begitu, proses kreatif menjadi lebih efisien karena tim dapat melihat dan menyesuaikan hasil visual di lokasi, tanpa harus sepenuhnya menunggu tahap pascaproduksi. Pendekatan ini juga memperlihatkan bagaimana teknologi kini memainkan peran penting dalam memperluas kemungkinan artistik perfilman Indonesia.

Gala Premiere Jadi Momen Perkenalan Kolaborasi Teknologi

Kolaborasi teknologi di balik Pelangi di Mars diperkenalkan kepada publik melalui acara Gala Premiere yang digelar di Epicentrum XXI, Jakarta. Acara tersebut menjadi momen penting untuk merayakan perjalanan produksi film yang telah berlangsung lebih dari lima tahun.

Selain menjadi ajang pemutaran perdana, gala premiere juga memberi kesempatan kepada para undangan untuk merasakan atmosfer dunia futuristik yang dihadirkan dalam film. Hal ini menunjukkan bahwa Pelangi di Mars bukan hanya menawarkan cerita petualangan, tetapi juga pengalaman visual yang dibangun dengan dukungan teknologi modern.

Siap Tayang di Bioskop Indonesia

Film Pelangi di Mars menghadirkan deretan pemain seperti Messi Gusti, Lutesha, Rio Dewanto, Myesha Lin, dan Livy Renata. Selain itu, film ini juga didukung pengisi suara karakter robot, di antaranya Bimo Kusumo, Kristo Immanuel, Gilang Dirga, dan Vanya Rivani.

Setelah mendapatkan apresiasi dari para undangan pada pemutaran perdananya, Pelangi di Mars dijadwalkan tayang di bioskop seluruh Indonesia mulai 18 Maret 2026. Kehadiran film ini diharapkan mampu menghadirkan kisah petualangan lintas planet yang penuh imajinasi sekaligus menjadi inspirasi bagi keluarga Indonesia.

Melalui kolaborasi dengan Mahakarya Pictures dan DOSS Guava XR Studio, ASUS menegaskan perannya dalam mendorong inovasi produksi film Indonesia. Dukungan teknologi ini memperlihatkan bahwa kualitas visual sinema nasional dapat terus berkembang seiring pemanfaatan perangkat dan sistem produksi yang semakin maju.

(Rutinitas Media)