Platform AI KitaBersama dikembangkan untuk membantu mengenali dampak ACE, mendukung kesehatan mental anak muda, dan melengkapi peran profesional.

Pengalaman buruk di masa kecil atau adverse childhood experiences (ACE) menjadi isu kesehatan mental yang semakin penting untuk diperhatikan. Berdasarkan data yang tersedia, sekitar 78% remaja Indonesia mengaku pernah mengalami pengalaman buruk pada masa kecil. Kondisi ini dapat muncul akibat kekerasan yang dialami langsung maupun yang disaksikan di lingkungan rumah dan sekolah.

Dalam jangka panjang, pengalaman tersebut berpotensi meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan dan depresi. Bahkan, penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Child Abuse & Neglect pada 2021 menyebutkan bahwa individu yang memiliki pengalaman buruk di masa kecil berisiko mengulangi pola kekerasan yang pernah mereka alami kepada anak mereka sendiri atau anak-anak lain.

Dampak Trauma Masa Kecil yang Sering Terlambat Disadari

Salah satu tantangan terbesar dalam menangani trauma masa kecil adalah rendahnya pemahaman lingkungan sekitar. Keluarga, guru, maupun orang terdekat sering kali belum mampu mengenali tanda awal masalah kesehatan mental yang muncul akibat pengalaman buruk tersebut.

Akibatnya, banyak kasus kesehatan mental di Indonesia terlambat didiagnosis dan ditangani. Padahal, penanganan sejak dini sangat penting agar dampaknya tidak berkembang menjadi kondisi yang lebih serius di kemudian hari.

KitaBersama, Platform AI untuk Kesehatan Mental

Untuk membantu meningkatkan kesadaran masyarakat, para peneliti dari Monash University, Indonesia tengah mengembangkan platform digital berbasis kecerdasan buatan bernama KitaBersama. Platform ini dirancang untuk membantu mengenali dan mengelola dampak pengalaman buruk di masa kecil.

Pemanfaatan AI dalam kesehatan mental semakin relevan karena teknologi ini mampu membaca pola dari data dalam jumlah besar. Studi tahun 2024 dalam Journal of Medicine, Surgery, and Public Health mengungkapkan bahwa AI dapat mendeteksi perubahan emosional seseorang melalui bahasa yang digunakan, pola tidur, aktivitas fisik, serta interaksi sehari-hari.

Dengan kemampuan tersebut, AI berpotensi membantu proses skrining awal terhadap gangguan kesehatan mental, termasuk mengidentifikasi pengalaman buruk di masa kecil sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih kompleks.

Dikembangkan Sesuai Konteks Indonesia

Meski memiliki potensi besar, penggunaan AI dalam kesehatan mental tetap perlu disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Faktor seperti bahasa, budaya, sistem pendidikan, layanan kesehatan, hingga dinamika keluarga di Indonesia perlu diperhitungkan agar hasilnya tidak bias.

Karena itu, pengembangan KitaBersama dilakukan melalui lokakarya co-design. Proses ini melibatkan anak muda berusia 10–24 tahun, orang tua, guru, tenaga kesehatan, serta penyintas gangguan kesehatan mental.

Melalui diskusi tersebut, para peserta memberikan masukan tentang bagaimana platform ini dapat membantu anak muda beradaptasi dengan dampak trauma masa kecil. Mereka juga membahas peran orang tua dalam meningkatkan keterampilan pengasuhan, serta dukungan yang dapat diberikan oleh sistem pendidikan dan kesehatan.

Uji Coba KitaBersama Direncanakan Akhir 2026

Hingga pertengahan 2026, tim peneliti telah menyelesaikan proses co-design bersama anak muda dan orang tua di Jawa Barat, Kalimantan Timur, dan Jakarta. Dari proses tersebut, mereka mendapatkan wawasan penting mengenai kebutuhan layanan kesehatan mental digital di tingkat lokal.

Saat ini, prototipe KitaBersama sedang masuk tahap konsultasi bersama para ahli dan pemangku kepentingan, termasuk Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Uji coba sukarela direncanakan berlangsung di Jawa Barat dan Kalimantan Timur pada akhir 2026, dengan hasil lengkap yang diperkirakan tersedia pada Februari 2027.

AI Mendukung, Bukan Menggantikan Tenaga Profesional

KitaBersama tidak dikembangkan untuk menggantikan peran psikolog atau psikiater. Jika pengguna terindikasi mengalami tanda masalah kesehatan mental, mereka tetap akan diarahkan untuk berkonsultasi dengan tenaga profesional.

Hal ini penting karena empati, keterhubungan, dan interaksi manusia tetap menjadi inti dari proses pemulihan dalam terapi psikologis. AI dapat membantu proses deteksi dan edukasi awal, tetapi keputusan dan pendampingan tetap memerlukan pengawasan manusia.

Tantangan Privasi dan Kesenjangan Digital

Pengembangan KitaBersama juga masih menghadapi sejumlah tantangan. Kesenjangan digital menjadi salah satu isu utama, terutama di daerah terpencil yang akses internet dan perangkatnya masih terbatas.

Selain itu, privasi data harus menjadi prioritas. Informasi kesehatan mental termasuk data sensitif, sehingga proses pengumpulan, penyimpanan, dan penggunaannya harus dilakukan secara transparan, berbasis informed consent, aman, akurat, dan tetap diawasi oleh manusia.

(Rutinitas Media)