Keberhasilan Bigetron by Vitality menjuarai FFWS SEA 2026 Fall tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mekanik dan strategi di dalam permainan. Kemampuan tim dalam mengendalikan emosi juga menjadi bagian penting dari perjalanan mereka menuju gelar juara Asia Tenggara.
Menjelang Grand Finals, Bigetron menerima penalti berupa pengurangan 10 poin pada Point Rush Stage serta pemotongan lima persen hadiah terkait persoalan pemanfaatan bug. Konsekuensinya, mereka harus memulai pertandingan final tanpa memperoleh Headstart Point.

Chrisjo Jaga Kondisi Mental Pemain
Pelatih Bigetron, Christian Jonathan Pascoal atau Chrisjo, mengakui bahwa keputusan tersebut memengaruhi kondisi emosional tim.
Bigetron tidak sepenuhnya sepakat dengan penalti yang dijatuhkan. Tim sebelumnya juga pernah mengajukan laporan mengenai situasi lain yang dinilai memiliki indikasi bug, tetapi laporan tersebut tidak mendapatkan persetujuan.
Dalam kondisi seperti itu, Chrisjo tidak hanya perlu memikirkan strategi pertandingan. Ia juga harus memastikan rasa kecewa pemain tidak mengganggu fokus ketika Grand Finals dimulai.
Menurut Chrisjo, kemarahan terhadap keputusan tersebut tidak mungkin terus dibawa sepanjang pertandingan. Rasa tidak setuju tetap ada, tetapi energi tersebut perlu diarahkan untuk membuktikan kemampuan Bigetron melalui performa di dalam game.
Tekanan Terus Berlanjut hingga Game 12
Grand Finals sendiri berlangsung sangat melelahkan. Chrisjo menggambarkan hari tersebut seperti roller coaster karena situasi pertandingan terus berubah.
Aktivitas sejak pagi hingga malam bahkan membuat kondisi fisiknya terkuras. Ia mengaku tubuh terasa lemas, punggung sakit, kepala pusing, hingga kaki pegal. Namun seluruh kelelahan tersebut akhirnya terbayar dengan kemenangan.
Tekanan semakin tinggi pada Game 10 dan Game 11 ketika GOW dua kali berada sangat dekat dengan gelar juara. Bigetron sempat merasa turnamen mungkin segera berakhir tanpa kemenangan bagi mereka.
Namun kesempatan masih terbuka pada Game 12. Bigetron kemudian tampil dengan pendekatan berbeda. Para pemain diminta lebih berani mengambil fight dan tidak terlalu lama mempertimbangkan setiap peluang yang muncul. Keputusan tersebut berbuah manis. Bigetron mendapatkan Booyah sekaligus memastikan gelar juara FFWS SEA 2026 Fall.
Perjalanan ini memperlihatkan bahwa pada kompetisi tingkat tinggi, kemampuan mengelola kekecewaan bisa sama pentingnya dengan menyusun strategi. Bigetron tidak dapat mengubah keputusan sebelum Grand Finals, tetapi mereka mampu menentukan cara terbaik untuk meresponsnya.
(Rutinitas Media)

