Membangun tim yang solid tidak selalu berarti mengumpulkan orang-orang dengan karakter, gaya kerja, dan cara berpikir yang sama. Dalam banyak situasi, perbedaan justru dapat menjadi kekuatan apabila setiap anggota memahami peran masing-masing dan bergerak menuju tujuan yang sama.
Prinsip tersebut terlihat dari cara Christian “Chrisjo” Jonathan Pascoal menangani Bigetron by Vitality. Sebagai pelatih, Chrisjo tidak hanya dituntut memahami kemampuan mekanik pemain, tetapi juga harus mengetahui kapan seorang pemain lebih tepat digunakan berdasarkan kebutuhan pertandingan.
Salah satu contoh terlihat pada Grand Finals FFWS SEA 2026 Fall. Dalam Game 11, Chrisjo memasukkan Tiuszz untuk menggantikan Kyongg.

Setiap Pemain Memiliki Fungsi Berbeda
Keputusan memasukkan Tiuszz bukan dilakukan tanpa pertimbangan. Chrisjo membutuhkan pemain yang bisa bermain sangat dekat dengan Fellow sehingga formasi Bigetron dapat tetap rapat dalam situasi tertentu. Namun, strategi tersebut tidak berjalan sesuai rencana. Bigetron justru harus tersingkir lebih awal dari pertandingan.
Setelah melakukan evaluasi, Chrisjo kembali memainkan Kyongg pada Game 12. Keputusan tersebut kemudian memberikan dampak penting dalam pertandingan penutup Bigetron. Pergantian itu menunjukkan bahwa Chrisjo tidak memandang satu pemain selalu lebih baik daripada pemain lainnya. Menurut pendekatannya, setiap pemain mempunyai karakter permainan serta fungsi yang berbeda.
Tugas pelatih adalah memahami kebutuhan pertandingan dan menentukan pemain yang paling sesuai dengan situasi tersebut.
Chrisjo Memahami Karakter Pemain
Prinsip serupa juga diterapkan Chrisjo dalam menghadapi kepribadian para pemain di luar pertandingan. Kojaa menjadi salah satu contoh. Ia dikenal memiliki karakter yang keras sekaligus mempunyai etos kerja tinggi. Gaya komunikasinya terkadang bisa terasa cukup keras bagi pemain lain.
Namun, Chrisjo tidak melihat karakter tersebut hanya sebagai masalah. Energi Kojaa justru dapat menjadi dorongan besar bagi tim apabila disampaikan dan diterima dengan cara yang tepat.
Di sinilah Chrisjo mengambil peran sebagai penyeimbang. Ketika Kojaa menyampaikan sesuatu menggunakan pendekatan yang lebih keras, Chrisjo dapat membawa pesan serupa dengan cara komunikasi yang lebih lembut. Tujuannya bukan mengubah pesan, melainkan menyesuaikan metode penyampaian agar dapat diterima oleh karakter pemain yang berbeda.

Tim Tidak Harus Berisi Orang yang Seragam
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa membangun tim bukan berarti membuat seluruh anggotanya memiliki karakter identik. Ada pemain yang lebih agresif, ada yang analitis, ada yang cepat mengambil keputusan, dan ada pula yang membutuhkan lebih banyak waktu untuk membaca situasi.
Hal yang sama juga dapat ditemukan dalam dunia kerja. Sebagian anggota tim mungkin unggul dalam komunikasi, sementara yang lain lebih kuat dalam analisis, eksekusi, atau memastikan detail pekerjaan. Jika seluruh anggota dipaksa bekerja menggunakan pola yang sama, sebagian kemampuan mereka justru berpotensi tidak berkembang secara maksimal.

Perbedaan Tetap Membutuhkan Arah
Meski memberikan ruang terhadap perbedaan, Chrisjo tetap menilai struktur sebagai bagian penting dalam sebuah tim. Diskusi dan perbedaan pendapat dapat terjadi selama proses berlangsung. Namun, ketika keputusan akhir telah dibuat, seluruh anggota harus menjalankan arah yang telah disepakati.
Pendekatan Chrisjo dalam membangun Bigetron menunjukkan bahwa kekuatan tim bukan berasal dari keseragaman. Tim yang kuat justru dapat lahir dari kemampuan seorang pemimpin memahami perbedaan, menempatkan setiap orang pada fungsi yang tepat, dan menyatukan berbagai karakter tersebut menuju satu tujuan bersama.
(Rutinitas Media)

