Image via Freepik.com
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat minat perusahaan untuk melantai di bursa masih cukup tinggi. Hingga pertengahan April 2026, terdapat 16 perusahaan yang sedang berada dalam antrean penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO). Dari jumlah tersebut, sektor kesehatan menjadi yang paling dominan dalam pipeline pencatatan saham tahun ini.
Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menyampaikan bahwa sampai saat ini ada 16 perusahaan yang sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke pasar modal melalui IPO. Data ini menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia masih menjadi salah satu pilihan pendanaan yang menarik bagi perusahaan dari berbagai sektor usaha.
Mayoritas Calon Emiten Beraset Skala Besar
Jika dilihat berdasarkan klasifikasi aset yang mengacu pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017, antrean IPO kali ini didominasi oleh perusahaan dengan skala aset besar. Dari total 16 calon emiten, sebanyak 11 perusahaan masuk kategori aset skala besar dengan nilai di atas Rp250 miliar. Sementara itu, 5 perusahaan lainnya berada dalam kategori aset skala menengah, yakni memiliki aset antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar.
Komposisi ini memperlihatkan bahwa mayoritas perusahaan yang ingin mencatatkan saham di BEI memiliki fondasi usaha yang relatif kuat. Kondisi tersebut dapat menjadi sinyal positif bagi pasar, karena perusahaan dengan aset besar umumnya dinilai memiliki kesiapan lebih matang dalam menghadapi tuntutan sebagai perusahaan terbuka, baik dari sisi tata kelola, transparansi, maupun ekspansi bisnis.

Sektor Kesehatan Jadi yang Paling Dominan
Dari sisi sektoral, healthcare atau sektor kesehatan menjadi yang paling aktif dengan kontribusi 4 perusahaan dalam antrean IPO. Dominasi sektor ini menunjukkan bahwa industri kesehatan masih memiliki prospek yang menarik di mata pelaku usaha dan investor. Kebutuhan layanan kesehatan yang terus berkembang, ditambah meningkatnya perhatian terhadap kualitas layanan medis dan pendukungnya, menjadi faktor yang membuat sektor ini tetap menjanjikan.
Di bawah sektor kesehatan, antrean IPO juga diisi oleh perusahaan dari sektor konsumen primer (non-cyclicals) dan konsumen non-primer (cyclicals). Masing-masing sektor tersebut menyumbang 3 perusahaan. Kehadiran dua sektor konsumer ini menandakan bahwa aktivitas bisnis yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari maupun konsumsi gaya hidup masih memiliki ruang pertumbuhan yang besar di pasar domestik.
Pipeline EBUS Tunjukkan Tren Positif
Tidak hanya pasar saham, aktivitas pendanaan melalui instrumen Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) juga menunjukkan perkembangan yang cukup positif. Hingga saat ini, BEI telah mencatat 52 emisi yang berasal dari 35 penerbit EBUS, dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp57,16 triliun.
Potensi pertumbuhan EBUS juga masih terbuka lebar. Per 17 April 2026, terdapat 46 emisi dari 31 penerbit EBUS yang sedang berada dalam pipeline. Ini menunjukkan bahwa minat perusahaan untuk menghimpun dana melalui pasar obligasi dan sukuk masih cukup tinggi, sejalan dengan kebutuhan pembiayaan jangka menengah dan panjang untuk mendukung ekspansi usaha.
Sektor Keuangan Pimpin Antrean EBUS
Jika dilihat dari komposisi sektornya, antrean EBUS saat ini didominasi oleh sektor keuangan dengan 15 perusahaan. Setelah itu, sektor infrastruktur menyusul dengan 7 perusahaan, sedangkan sektor energi tercatat memiliki 5 perusahaan dalam pipeline.
Dominasi sektor keuangan dalam penerbitan EBUS menunjukkan bahwa industri ini masih sangat aktif memanfaatkan instrumen utang untuk memperkuat struktur pendanaan dan mendukung pengembangan bisnis. Sementara itu, sektor infrastruktur dan energi yang juga cukup menonjol mengindikasikan adanya kebutuhan pembiayaan besar untuk proyek jangka panjang.
Rights Issue Masih Jadi Alternatif Penggalangan Dana
Di sisi lain, perusahaan tercatat di BEI juga masih aktif melakukan aksi korporasi melalui mekanisme rights issue. Hingga 17 April 2026, sudah ada 3 perusahaan tercatat yang berhasil merampungkan rights issue dengan total nilai mencapai Rp3,75 triliun.
Saat ini, masih ada 1 perusahaan dari sektor Properti & Real Estate yang berada dalam pipeline untuk melaksanakan rights issue. Meski jumlahnya tidak sebanyak IPO atau EBUS, keberadaan pipeline tersebut tetap menunjukkan bahwa aksi penggalangan dana di pasar modal berlangsung di berbagai jalur, tidak terbatas hanya pada penawaran saham perdana.

Image via Freepik.com
Pasar Modal Indonesia Masih Bergerak Aktif
Secara keseluruhan, data terbaru dari BEI mencerminkan bahwa pasar modal Indonesia tetap bergerak aktif di berbagai instrumen pendanaan. Antrean IPO yang didominasi sektor kesehatan, pertumbuhan pipeline EBUS, serta aksi rights issue dari emiten tercatat menjadi gambaran bahwa kebutuhan ekspansi dan pembiayaan korporasi masih terus berjalan.
Bagi investor, perkembangan ini juga dapat menjadi sinyal penting untuk mencermati sektor-sektor yang tengah agresif bertumbuh sepanjang 2026.
Sumber: IDX Channel
(Rutinitas Media)



