Pergantian pemain dalam pertandingan penting selalu membawa risiko besar. Situasi itu dialami Bigetron by Vitality pada dua game terakhir Grand Finals FFWS SEA 2026 Fall, ketika staf pelatih melakukan perubahan susunan pemain dalam waktu yang sangat krusial.
Pada Game 11, Bigetron memilih memainkan Tiuszz untuk menggantikan Kyongg. Keputusan tersebut bukan sekadar eksperimen, melainkan bagian dari strategi yang telah dipertimbangkan oleh pelatih Christian Jonathan Pascoal atau Chrisjo.

Chemistry Fellow dan Tiuszz Jadi Pertimbangan
Chrisjo membutuhkan pemain yang mampu bermain lebih dekat dengan Fellow. Berdasarkan performa selama latihan, Tiuszz dinilai memiliki karakter permainan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.
Selain itu, Fellow dan Tiuszz juga bukan pasangan yang benar-benar baru. Keduanya pernah bermain bersama di level Academy sehingga telah memiliki chemistry yang cukup baik.
Harapannya, kehadiran Tiuszz dapat membuat permainan Bigetron menjadi lebih rapat dan membantu Fellow tampil lebih optimal.
Namun, kondisi pertandingan kompetitif tidak selalu berjalan sesuai skenario latihan. Pada Game 11, perubahan tersebut belum menghasilkan performa seperti yang diharapkan.
Chrisjo menilai pertandingan itu seolah memang belum menjadi harinya Fellow maupun Tiuszz. Setelah game berakhir, staf pelatih kemudian kembali melakukan evaluasi dan mencoba melakukan reset sebelum pertandingan berikutnya.

Kyongg Kembali di Game Penentuan
Memasuki Game 12, Bigetron kembali melakukan perubahan. Kyongg dimainkan lagi menggantikan Tiuszz.
Menariknya, waktu yang dihabiskan Kyongg di luar pertandingan justru memberikan keuntungan tersendiri. Dengan menyaksikan permainan tim dari luar, ia mendapatkan perspektif yang lebih luas mengenai situasi pertandingan dan apa yang perlu dilakukan ketika kembali turun bermain.
Kyongg kemudian ikut memberikan kontribusi pada fase akhir pertandingan yang membawa Bigetron semakin dekat dengan kemenangan.
Keputusan ini memperlihatkan fleksibilitas Chrisjo dan staf pelatih dalam membaca kondisi tim. Pergantian pada Game 11 tidak dipertahankan hanya karena sebelumnya sudah dipilih. Ketika hasilnya belum sesuai ekspektasi, Bigetron kembali mengevaluasi komposisi yang dianggap paling tepat.

Pada Game 12, Kyongg kembali bermain saat Bigetron juga mengubah pendekatan menjadi lebih berani mengambil fight. Hasilnya, mereka berhasil mendapatkan Booyah sekaligus memastikan gelar juara FFWS SEA 2026 Fall.
Cerita Game 11 dan Game 12 menunjukkan bahwa pergantian pemain bukan sekadar menentukan siapa yang lebih baik. Faktor chemistry, kebutuhan strategi, kondisi pertandingan, serta kemampuan pemain membaca situasi dari sudut pandang berbeda juga dapat menjadi pertimbangan penting.
(Rutinitas Media)

