Surabaya memiliki arti khusus dalam perjalanan kompetitif Bigetron by Vitality di skena Free Fire. Kota ini pernah menjadi tempat mereka menerima hasil mengecewakan, tetapi pada FFWS SEA 2026 Fall, Surabaya justru menjadi panggung bagi Bigetron untuk menuntaskan apa yang disebut pelatih Christian Jonathan Pascoal atau Chrisjo sebagai sebuah redemption.
Cerita tersebut sebenarnya telah dimulai jauh sebelum FFWS SEA 2026 Fall. Chrisjo menarik perjalanan Bigetron hingga FFWS ID 2024 Spring, ketika tim gagal meraih hasil yang diharapkan dan harus kembali berjuang melalui jalur FFNS.

Bigetron Kembali Berjuang dari Bawah
Setelah kegagalan tersebut, perjalanan Bigetron seakan dimulai kembali dari level grassroots. Mereka mengikuti community tournament di Tangerang dan menjalani pengalaman yang jauh berbeda dibandingkan kompetisi besar.
Chrisjo mengenang bagaimana tim berangkat menggunakan kereta sebelum bermain di KFC dengan disaksikan langsung oleh publik. Atmosfer tersebut mengingatkannya pada masa-masa turnamen offline sebelum esports berkembang sebesar sekarang.
Dari perjalanan itu, Bigetron mendapatkan kesempatan melaju ke FFNS. Mereka kemudian berhasil menjadi juara FFNS di Bandung dan kembali memperoleh tiket menuju kompetisi Asia Tenggara.
Namun, perjalanan Bigetron dengan Surabaya belum selesai.
Pada FFWS SEA 2024 Fall yang juga diselenggarakan di Surabaya, Bigetron kembali gagal meraih hasil maksimal dan hanya berada di sekitar posisi ke-10. Dua pengalaman tersebut membuat kota ini memiliki makna tersendiri bagi Chrisjo dan tim.

Surabaya Menjadi Panggung Redemption
Chrisjo sejak lama memiliki keinginan menjadikan Surabaya sebagai tempat Bigetron membayar kegagalan sebelumnya. Ketika kesempatan kembali datang pada 2026, mereka tidak ingin gagal untuk ketiga kalinya.
Jalannya Grand Finals tetap jauh dari mudah. Bigetron harus menghadapi penalti sebelum pertandingan, kehilangan keuntungan Headstart Point, laga panjang yang menguras konsentrasi, perubahan susunan pemain, hingga tekanan Champion Rush.
Situasi mencapai puncaknya pada Game 12. Sebanyak 11 tim telah mengantongi status Champion Rush sehingga siapa pun yang mendapatkan Booyah dapat langsung menjadi juara Asia Tenggara.
Kali ini, Bigetron menjadi tim yang mampu memaksimalkan peluang tersebut.
Booyah pada pertandingan terakhir memastikan Bigetron juara FFWS SEA 2026 Fall. Kemenangan itu sekaligus menutup perjalanan panjang dari turnamen komunitas, menjuarai FFNS, mengalami kegagalan di Surabaya, hingga kembali ke panggung kompetisi Asia Tenggara.
Surabaya yang sebelumnya identik dengan kegagalan akhirnya berubah menjadi tempat Bigetron mengangkat trofi. Bagi Chrisjo, kemenangan tersebut menjadi penuntasan perjalanan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
(Rutinitas Media)

